Monday, November 12, 2018

Seperti elang, kau pun berhak atas kebebasanmu, berawal dari kepergian diakhiri dengan kehilangan


10  tahun yang lalu,cerita aku mengenalnya dimulai dari melihat dia setiap hari dalam 1 tahun ku. Siang adalah pemandangan yang indah dibawah pohon nun jauh disana, aku melihatnya mengusap keringat dikening. Wajah putih bersihnya terlihat merah, mungkin itu yang membedakan dia dengan yang lain. Kemudian bayangannya mendekat, bersama raga yang begitu indah dipandang, sangat dekat, dan aku melihat dia berjalan menuju sebuah sudut di rumah Allah.

                Dia membasuh muka yang penuh air matahari dengan air illahi. Pernah sekali terbawa suasana bercanda bersamanya, ketika malam meskipun kita tidak saling atau bahkan tidak pernah bertatap muka, kami menghabiskan malam dengan obrolan ringan, semakin akrab bahkan ketika aku tidak sanggup melihat indahnya kembang api malam itu, rasanya aku sudah melihat ribuan kembang api meledak dan bertaburan dimalam itu, bahagia, semangat yang rasanya semakin menggebu dan sesak didada. Sayangnya aku lupa berapa puluh ribu aku habiskan pulsa seluler ku untuk membalas cerita demi cerita obrolan kita. Bahkan kita pernah beradu argumen antara kalimat “white devil dan devil white”. Yang menurutku dia lebih pandai menjawab semua pernyataanku.

Berfoto dengannya adalah impianku ketika itu, sayangnya tidak ada kamera sejernih sekarang kala itu. banyak hal yang membuatku merasa dia selalu ada didekatku, setiap hari aku semakin mengenalinya, semakin indah dan semacam candu. Aku bahkan masih ingat tanggal kelahirannya, atau tanah kelahirannya, nama lengkapnya, sampai alamat rumahnya. Banyak hal bahkan cerita aku malu malu mengakui betapa aku sangat menginginkannya, meskipun secara garis besar, kami seperti sepatu.

Waktu begitu cepat kami lewati, kemudian aku naik setingkat lebih tinggi, duduk dibawah pohon yang sedikit lebih dekat dari tempatnya biasa duduk disiang hari itu, dibawah pohon paling utara, cerita bersama sahabat yang semakin akrab. Dan aku mulai sadar, dia tidak lagi ada ditempatnya berteduh disaat matahari sedang semangatnya bekerja diatas sana.  Setiap aku mengingat wajahnya, aku selalu menghela nafas, menandakan sedalam itu aku mengagumi sosoknya.

Satu tahun berlalu sangat cepat setelah kepergiannya, aku naik 1 tingkat lagi dan kali ini aku duduk persis ditempat dia berteduh dahulu, lebih dari 2 tahun sebelumnya. Aku masih merasakan kehadirannya disana lewat angin yang menjatuhkan dedaunan kering yang gugur dari rantingnya. Sesekali tersenyum menutup mata sembari merasakan tiupan angin, dan membayangkan ketika dia duduk ditempatku berada. Meskipun ketika aku membuka mata, aku kembali dimasa ku, kembali dengan rutinitasku.

Ahh sayang aku hanya bisa menemaninya 1 tahun, terlalu cepat dia pergi, ingin rasanya mengulang kembali dia disini, ada bersamaku, mengisi siang hari yang penuh dengan pelangi. Satu tahun mengenalnya itu yang membuatku lupa bahwa ini sudah 2018. Sudah tiada lagi dia disana, beitu juga aku ditempat semula, pertama melihatnya. Duniawi lah yang menjauhkan kami, tapi bayangan nya yang lucu masih selalu mendekat, menyapaku. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, merasakan pernah mengagumi seseorang yang dia saja tidak tau seberapa besarnya seseorang mengaguminya.

Setahun setelah kepergiannya, belakangan aku tau dimana dia bernaung, bahkan 3 tahun setelahnya, aku masih mencari tau dimana dia kemudian. Namun di tahun ke 5 aku kembali kehilangan berita keberadaan dia. Pernah sekali aku mencari dia disosmed, dan tau nickname nya, mengikuti postingan dia yang terlalu lama update nya, aku berusaha mencari bahan untuk kembali membuka pembicaraan. Kembali memperkenalkan diri namun tidak ada balasan. Dan mencoba kembali dengan beberapa topik pembicaraan. Rupanya dia adalah sosok yang baru, atau mungking aku yang salah memilih topik pembicaraan ketika itu.Entahlah, ku pikir aku memang lancang ketika itu, atau dia sudah lupa denganku, atau malah ketika itu dia telah memiliki belahan jiwa lain dan canggung membalas pesan ku. Entahlah... Setelah itu aku menghapus pertemanan dengannya, selang sebulan atau beberapa minggu aku tidak lagi menemukan nickname dalam pencarian disosmed dengan akun ku. Ketika itu, ku pikir, ini cara Tuhan menghentikan keingintahuan ku tentang dia. Dan mengharuskan aku untuk menyambut semangat baru.


Big thanks to Allah dan seseorang yang membuatku bisa menciptakan cerpen sepanjang ini dan entah berapa banyak puisi yang ternyata aku baru sadar sudah membakar nya .

Kulit berminyak dan berjerawat, facial disalon efektif nggak sih?

Assalamualaikum cintaH...(pakai H biar seksih) postingan ketiga ku ini aku nggak akan bercerita panjang lebar soal cinta cintaan yaa   guy...