10 tahun yang lalu,cerita aku mengenalnya
dimulai dari melihat dia setiap hari dalam 1 tahun ku. Siang adalah pemandangan
yang indah dibawah pohon nun jauh disana, aku melihatnya mengusap keringat
dikening. Wajah putih bersihnya terlihat merah, mungkin itu yang membedakan dia
dengan yang lain. Kemudian bayangannya mendekat, bersama raga yang begitu indah
dipandang, sangat dekat, dan aku melihat dia berjalan menuju sebuah sudut di
rumah Allah.
Dia
membasuh muka yang penuh air matahari dengan air illahi. Pernah sekali terbawa
suasana bercanda bersamanya, ketika malam meskipun kita tidak saling atau
bahkan tidak pernah bertatap muka, kami menghabiskan malam dengan obrolan
ringan, semakin akrab bahkan ketika aku tidak sanggup melihat indahnya kembang
api malam itu, rasanya aku sudah melihat ribuan kembang api meledak dan
bertaburan dimalam itu, bahagia, semangat yang rasanya semakin menggebu dan
sesak didada. Sayangnya aku lupa berapa puluh ribu aku habiskan pulsa seluler
ku untuk membalas cerita demi cerita obrolan kita. Bahkan kita pernah beradu
argumen antara kalimat “white devil dan devil white”. Yang menurutku dia lebih
pandai menjawab semua pernyataanku.
Berfoto
dengannya adalah impianku ketika itu, sayangnya tidak ada kamera sejernih
sekarang kala itu. banyak hal yang membuatku merasa dia selalu ada didekatku, setiap
hari aku semakin mengenalinya, semakin indah dan semacam candu. Aku bahkan
masih ingat tanggal kelahirannya, atau tanah kelahirannya, nama lengkapnya,
sampai alamat rumahnya. Banyak hal bahkan cerita aku malu malu mengakui betapa
aku sangat menginginkannya, meskipun secara garis besar, kami seperti sepatu.
Waktu begitu
cepat kami lewati, kemudian aku naik setingkat lebih tinggi, duduk dibawah
pohon yang sedikit lebih dekat dari tempatnya biasa duduk disiang hari itu,
dibawah pohon paling utara, cerita bersama sahabat yang semakin akrab. Dan aku
mulai sadar, dia tidak lagi ada ditempatnya berteduh disaat matahari sedang
semangatnya bekerja diatas sana. Setiap
aku mengingat wajahnya, aku selalu menghela nafas, menandakan sedalam itu aku
mengagumi sosoknya.
Satu tahun
berlalu sangat cepat setelah kepergiannya, aku naik 1 tingkat lagi dan kali ini
aku duduk persis ditempat dia berteduh dahulu, lebih dari 2 tahun sebelumnya.
Aku masih merasakan kehadirannya disana lewat angin yang menjatuhkan dedaunan
kering yang gugur dari rantingnya. Sesekali tersenyum menutup mata sembari
merasakan tiupan angin, dan membayangkan ketika dia duduk ditempatku berada.
Meskipun ketika aku membuka mata, aku kembali dimasa ku, kembali dengan
rutinitasku.
Ahh sayang aku
hanya bisa menemaninya 1 tahun, terlalu cepat dia pergi, ingin rasanya
mengulang kembali dia disini, ada bersamaku, mengisi siang hari yang penuh
dengan pelangi. Satu tahun mengenalnya itu yang membuatku lupa bahwa ini sudah
2018. Sudah tiada lagi dia disana, beitu juga aku ditempat semula, pertama
melihatnya. Duniawi lah yang menjauhkan kami, tapi bayangan nya yang lucu masih
selalu mendekat, menyapaku. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, merasakan
pernah mengagumi seseorang yang dia saja tidak tau seberapa besarnya seseorang
mengaguminya.
Setahun
setelah kepergiannya, belakangan aku tau dimana dia bernaung, bahkan 3 tahun
setelahnya, aku masih mencari tau dimana dia kemudian. Namun di tahun ke 5 aku
kembali kehilangan berita keberadaan dia. Pernah sekali aku mencari dia
disosmed, dan tau nickname nya, mengikuti postingan dia yang terlalu lama
update nya, aku berusaha mencari bahan untuk kembali membuka pembicaraan. Kembali
memperkenalkan diri namun tidak ada balasan. Dan mencoba kembali dengan
beberapa topik pembicaraan. Rupanya dia adalah sosok yang baru, atau mungking
aku yang salah memilih topik pembicaraan ketika itu.Entahlah, ku pikir aku
memang lancang ketika itu, atau dia sudah lupa denganku, atau malah ketika itu
dia telah memiliki belahan jiwa lain dan canggung membalas pesan ku.
Entahlah... Setelah itu aku menghapus pertemanan dengannya, selang sebulan atau
beberapa minggu aku tidak lagi menemukan nickname dalam pencarian disosmed
dengan akun ku. Ketika itu, ku pikir, ini cara Tuhan menghentikan keingintahuan
ku tentang dia. Dan mengharuskan aku untuk menyambut semangat baru.
Big thanks to Allah dan seseorang
yang membuatku bisa menciptakan cerpen sepanjang ini dan entah berapa banyak puisi
yang ternyata aku baru sadar sudah membakar nya .